Joko Widodo Karakter Pemimpin Masa Kini dan Masa Datang

 Pada saat menjabat walikota Solo JOKO WIDODO adalah termasuk 25 Walikota terbaik dunia versi The City Mayors Foundation, London, Inggris, dan termasuk 5 besar walikota terbaik Asia dan  kepemimpinannya sering diulas para pengamat politik di negeri jiran Malaysia.

Gubernur DKI

Gubernur DKI

Menurut Almond dan powell, orientasi individu terhadap sistem politik dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu orientasi kognitif,  afektif, dan evaluative. Orientasi kognitif meliputi berbagai pengetahuan dan keyakinan tentang sistem politik.  Misalnya, pengetahuan seseorang mengenai sistem politik, tokoh-tokoh pemerintahan, kebijakan yang mereka ambil, syimbol-syimbol yang dimiliki oleh sistem politiknya secara keseluruhan seperti, ibukota Negara, lambang Negara, kepala Negara, batas Negara, mata uang, dll.   Orientasi afektif menunjuk pada aspek perasaan atau ikatan emosional seorang individu terhadap pemimpin atau sistem politik, sehingga seorang dapat menerima atau menolak sistem politik tertentu atau mengidolakan tokoh tertentu.   Sedangkan Orientasi evaluative yaitu penilaian moral seseorang terhadap sistem politik atau pemimpin yang telah mereka pilih terhadap kinerja atau janji politik saat berkampanye dengan menggunakan informasi dan perasaan tentang kinerja suatu sistem politik serta penilaian didasarkan pada norma-norma yang dianut dan sepakati bersama. Continue reading

Upaya Pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia

Sekapur Sirih

Penderita HIV dan AIDS di Indonesia telah sampai tahap yang menghkhawatirkan karena telah merambah semua provinsi yang ada di Indonesia.  Dari 33 Provinsi yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia 33 terdapat penderita HIV positif dan hanya 1 Provinsi saja yang tidak terdapat penderita AIDS.  Percepatan penderita HIV maupun AIDS telah menyerang ibu rumah tangga beserta bayi yang dilahirkannya lantaran ibunya tertular dari suaminya dan bayi yang dilahirkannya ikut terjangkit Virus yang mematikan itu.  Continue reading

Hukum Mestinya Ibarat Pedang Bermata Dua

Pelaksanaan hukum menurut teorinya adalah ibarat pedang bermata dua dimana kedua matanya itu harus tajam menebas ke bawah dan tajam menebas ke atas sehingga hukum itu berwibawa ke atas untuk para pejabat dan tegas ke bawah untuk rakyat.  Kalau hukum mau tegak di negeri kita ini maka pelaksanaannya harus seperti pedang bermata dua sebagai harga mati.

Seperti yang dicontohkan Rasulullah Nabi muhammad SAW seandainya saja putrinya Siti Fatimah mencuri maka yang akan memotong tangannnya adalah Baginda Nabi sendiri seperti itulah seharusnya keadilan hukum itu tidak pandang siapapun atau tidak pandang bulu.

Kenyataannya di negeri kita Indonesia ini pelaksanaan penegakan hukum sebagai salah asatu agenda reformasi yang harus dicapai belum sepenuhnya ditegakkan dan yang lebih parah lagi penegakan hukum selalu dikaitkan dengan politik alias dipolitisir, takut sama penguasa, masih mewarisi rezim lama yaitu mikul duwur mendem jero dalam kejelekan, carmuk dan takut kehilanagn jabatan, balas jasa, asal bapak senang, dll.

Kita patut acungi jempol kepada beberapa aparat hukum yang berani seperti KPK sekarang ini supaya lebih tidak tebang pilih dalam menindak tikus-tikus pemakan uang rakyat di negeri ini, kita mengharapakn tentu juga ini harapan rakyat yang ratusan juta ini bahwa jangan takut untuk menindak para koruptor, atau politisi yang korup walaupun berasal dari partai penguasa, atau anggota DPR atau lembaga negara lainnya yang berasal dari partai penguasa, harus diperlakukan sama dengan siapapun.

Para penegak hukum agar melaksanakan Penegakan hukum dan keadilan jangan terkesan lambat dan mengulur-ulur waktu, hal itu rakyat tidak menyukainya. Aparat penegak hukum jangan latah dalam arti apapun kasusnya jangan dibekukan apabila hal itu melibatkan aparat penegak hukum itu sendiri.  Atau jangan hanya tindakan desiplin organisasi, sering terjadi setelah kasus itu mencuat di media massa baru dilimpahkan ke kepolisian yang tadinya aparat itu tidak dilaporkan padahal kasusnya kriminal. Seperti yang terjadi di Sulawesi tenggara terhadap AAL yang mencuri sandal jepit.

Dalam kasus tersebut polisi melakukan pemukulan terhadap AAL namun polisi tersebut hanya di tindak melanggar desiplin mestinya diadukan kepolisi. Kasus ini sudah satu tahun baru mencuat ke masyarakat melalui media massa, karena kasusnya menjadi ramai dimasyarakat barulah polisi yang katanya dicuri sandalnya itu atau yang memukul AAL ini diajukan ke pengadilan.  Jadi kasus ini akan dibekukan alias tidak ada pengadilan apabila tidak mencuat ke masyarakat.  Banyak kasus yang serupa yang kecil-kesil segera diajukan kepersidangan dan pelakunya masuk penjara seperti pencurian 3 biji coklat, semangka, 3 kg asam, pisang, dll  Namun kasus -kasus besar tidak terentuh dan penegak hukum di negeri ini TAKUT, sekali lagi TAKUT dan TAKUT yaitu takut hilang jabatannya, takut sama atasannya, takut sama penguasa karena terlibat kadernya dalam korupsi, yang akhirnya semua itu direkayasa dan tentunya menjadi tidak terbukti lalu terbang dan bebaaasssss.

Untuk KPK yang kepemimpinan  baru ini diharapkan berani untuk mengungkap kasus-kasus besar seperti Century, cek pelawat, kasus Nazarudin yang konon melibatkan partai tertentu ini segera di usut sehingga masyarakat semakin percaya terhadap KPK.

Mobil ESEMKA Harus Belajar Dari PT Dirgantara Indonesia

Beberapa bulan terakhir ini kita rakyat Indonesia sedang dibanggakan dengan prototip mobil esemka yang dirakit siswa SMK di Indonesia. Kita sebagai anak bangsa sangat berbangga hati untuk memiliki mobil nasional sendiri yang handal dan terjangkau harganya bagi rakyat.

Namun untuk diproduksi seterusnya supaya pemerintrah perlu mengkajinya dari berbagai aspek jangan asal produksi dan akhirnya tidak laku dipasaran global. Bolehlah kita mungkin mencontoh negara jiran Malaysia dengan produk mobil nasionalnya yang bernama Proton, kita tidak tahu apakah Proton juga sukses di Malaysia atau tidak alias menjadi beban negaranya. Ada perbedaan antara Malaysia dengan Indonesia, adalah kalau di Malaysia para pejabat negaranya termasuk menterinya diwajibkan menggunakan mobil proton seharga 200 jutaan sebagai mobil dinas kemeteriannya termasuk jajarannya ke bawah, sehingga alhasil rakyatpun banyak yang memilikinya sebagai suatu kebanggaan, nah untuk Indonesia apakah mau para pejabat negara ini menggunakan mobil dinas dengan harga 100 jutaan – 150 jutaan menjadi mobil dinas kenegaraan. Sedangkan para menteri atrau para pejabat Indonesia selalu mengupdate mobil dinas setiap tahun dari yang memang sudah mahal sampai semakin mahal sampai 1 milyaran rupiah untuk satu unit mobil dinas menteri. Kita salut untuk para pejabat di daerah Jawa untk menggunakan mobil ESEMKA secagai mobil dinasnya semoga hal ini diikuti oleh para pejabat yang lebih tinggi di negeri ini sehingga mobil dalam negeri ini menjadi primadona di rumahnya sendiri. Nah bila mobil besutan dalam negeri ini tidak mendapat sambutan dari rakyat secara menyeluruh maka hal ini akan menjadi beban negara. Kita perlu belajar dari PT Dirgantara Indonesia yang memproduksi pesawat terbang yang akhirnya kandas bahkan sempat pabriknya akan dijual ke asing. PT Dirgantara membebani negara sehingga dengan krisis moneter yang teradi di Indonesia mengakibatkan negara tidak mampu membiayai produksi pesawat tersebut. Bahkan pesawat yang diproduksi itu ada yang ditrukar dengan beras ketan dengan Taiwan. Bayangkan tekhnologi canggih ditukar dengan beras ketan walaupun memang nilainya sebanding tetapi itu menunjukkan bahwa pesawat itu kurang diminati pasar walaupun memang Pesawat produksi PT Dirgantara itu memiliki kwalitas diatas pesawat buatan China.

Kembali ke mobil ESEMKA sekali lagi saya amat bangga dan menghargai kreativitas anak negeri yang sangat luar biasa ini semoga mobil ini tetap dan akan menjadi kebanggaan nasional dan banyak diminati rakyat dan kualitasnya agar dapat bersanding dengan mobil produksi lainnya.

Hidup ESEMKA hidup rakyatku jayalah bangsaku..Indonesia.

Kerusuhan di Negeriku

Hampir setiap hari kita mendengan berita di media massa yang memberitakan kerusuhan, demontrasi, ketidakadilan yang memicu bentrokan yng tidak sedikit menimbulkan korban jiwa di pihak masyarakat. Kerusuhan di mMesuji, bentrokan di Bima nusa tenggara barat, penembakan di Aceh, pembakaran pemukiman warga di sampang Madura dll, semua ini sangat membingungkan dan selalu kita bertanya mengapa bisa terjadi. Say kadang berpfikir mengapa negara tetangga kita, negara lain dalam keadaan aman tenteram, tidak pernah atau jarang kita mendengar salah satu negara tetangga ribut. Kita merindukan suasana seperti di negara lain.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa bisa terjadi di negara Republik Indonesia ini, maka banyak jawaban yang kita punya berdasarkan penglihatan atau pendapat sendiri-sendiri. Misalnya karena pemerintah tidak tegas dalam penegakan hukum bagi perusak negara terutama pelaku korupsi baik yang besar maupun korupsi kelas teri. karena pemerintah menurut masyarakat telah berbuat tidak adil untuk rakyat, rakyat selalu menganggap pemerintah membela pengusaha, pemegang hak penguasaan lahan Industri, pemerintah tidak mengadakan pendekatan sosial budaya dalam mengatasi suatu permasalahan. Pemerintah tidak mendengar keluhan masyarakat atau teriakan masyarakat dalam terutama dalam memberikan izin exploitasi sumber daya alam yang ada disekitar tempat tinggal mereka yang dapat mengancam kelangsungan hidup masyarakat.