Upaya Pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia

Sekapur Sirih

Penderita HIV dan AIDS di Indonesia telah sampai tahap yang menghkhawatirkan karena telah merambah semua provinsi yang ada di Indonesia.  Dari 33 Provinsi yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia 33 terdapat penderita HIV positif dan hanya 1 Provinsi saja yang tidak terdapat penderita AIDS.  Percepatan penderita HIV maupun AIDS telah menyerang ibu rumah tangga beserta bayi yang dilahirkannya lantaran ibunya tertular dari suaminya dan bayi yang dilahirkannya ikut terjangkit Virus yang mematikan itu. 

Berdasarkan badan PBB untuk masalah AIDS (UNAIDS) menyatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki peningkatan tercepat dalam kasus HIV/AIDS di Asia. Disamping itu, pemahaman masyarakat akan penyakit HIV/AIDS masih sangat rendah.

Dalam rangka penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia sejalan dengan upaya pemerintah saat ini, kalau merujuk pada berita VOA pada hari minggu tanggal 18 Naret 2012 yang berjudul “Pedoman Internasional Dikeluarkan untuk Bantu Pengobatan HIV” akan sangat membantu upaya penanggulangan HIV dan AIDS di dunia khususnya Indonesia. Tentunya kepedulian Internasional tersebut sangat berharga dalam pemberantasan HIV dan AIDS di muka bumi ini.

Penderita HIV dan AIDS di Indonesia :

Sumber Video :http://www.youtube.com

Untuk pertama kalinya kasus HIV dan AIDS di Indonesia ditemukan di Pulau Bali pada tahun 1987 tetapi pada tahun 2012 ini kasus  HIV dan AIDS telah merambah semua provinsi yang ada di Indonesia. Permasalahan HIV/AIDS telah lama menjadi isu bersama yang terus menyedot perhatian berbagai kalangan, terutama sektor kesehatan. Namun sesungguhnya masih banyak informasi dan pemahaman tentang permasalahan kesehatan ini yang masih belum diketahui lebih jauh oleh masyarakat.  Keberadaan penyakit ini maupun cara penularannya harus di informasikan atau disosialisasikan secara cepat dan luas dan berkesinambungan kepada masyarakat agar masyarakat mengerti dan tahu serta dapat merubah gaya atau pola serta prilaku yang dapat mendatangkan rentannya penularan HIV dan AIDS ini sehingga dapat menekan laju pertumbuhan penderita HIV dan AIDS di masyarakat.

HIV dan AIDS dapat terjadi pada siapa saja tidak terbatas pada orang yang memilki perilaku yang menyimpang seperti resiko seks bebas namun telah merambah kepada mereka yang sama sekali tidak mengerti tentang HIV dan AIDS dan mereka yang berperilaku baik, misalnya ibu rumah tangga yang setiap hari di rumah namun ia tertular dari suaminya.  Lebih tragis lagi seorang bayi yang tidak berdaya bahkan baru dilahirkan harus menderita HIV positif karena ditularkan dari ibu penderita HIV yang didapat dari suami atau ayah bayi yang tertular HIV dan AIDS.  Kasus seperti ini sangat tidak adil tetapi itulah yang terjadi.  Kasus nyata seperti ini terjadi di Indonesia.  Salah satunya adalah Kasus di Bandung dan di Sorong Papua Barat.  Di Bandung seorang ibu rumah tangga dan anaknya yang balita positif menderita HIV yang ditularkan dari suaminya.  Ibu rumah tangga ini tidak pernah tahu kalau suaminya itu menderita HIV sampai sang suami meninggal pada tahun 2006.  Sekarang ibu rumah tangga ini hidup bersama anaknya melawan keganasan Virus ini dan sampai saat ini tetangganya tidak tahu bahwa dirinya serta anaknya penderita HIV positif.  Setiap bulan mengeluarkan biaya 50.000,- untuk biaya porter rumah sakit bersama anaknya dalam rangka mengontrol kesehatannya dan tetap minum obat antiretroviral  (ARV) yang diberikan dokter dengan gratis guna memperpanjang harapan hidupnya.  Demikian juga kasus yang terjadi di Sorong Papua Barat yang menimpa seorang ibu rumah tangga bernama Angelina tertular HIV dan penderita AIDS yang ditularkan oleh suaminya.  Suaminya dan bayi perempuanya  meninggal pada tahun 2002  akibat virus ini.

Selanjutanya berdasarkan sumber : Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan RI, bahwa secara kumulatif  Statistik Kasus HIV dan AIDS di Indonesia yang terhitung mulai 1 April 1987 sampai dengan 31 Desember 2011 adalah untuk kasus HIV mencapai 76.879 kasus dan untuk AIDS mencapai 29.879 kasus dan kematian akibat penyakit ini mencapai 5.430 orang.  Berikut ini  data terakhir yang penderita HIV dann AIDS setiap provinsi di Indonesia per tanggal 31 Desember 2011 sebagaiberikut :

Jumlah Kumulatif Kasus HIV & AIDS Berdasarkan Provinsi :

NO

Provinsi

HIV

AIDS

1

DKI Jakarta

18999

5117

2

Papua

7085

4449

3

Jawa Timur

9950

4598

4

Jawa Barat

5741

3939

5

Bali

4643

2428

6

Jawa Tengah

3531

1602

7

Kalimantan Barat

3145

1269

8

Sulawesi Selatan

2448

874

9

Riau

1007

705

10

DI Yogyakarta

1418

536

11

Sumatra Utara

5027

515

12

Sumatra Barat

568

428

13

Banten

2282

408

14

Kepulauan Riau

2184

404

15

Sulawesi Utara

1567

361

16

Nusa Tenggara Timur

1080

338

17

Jambi

231

290

18

Sumatra Selatan

969

260

19

Nusa Tenggara Barat

430

219

20

Maluku

656

195

21

Lampung

415

192

22

Papua Barat

1361

156

23

Bengkulu

117

149

24

Bangka Belitung

200

122

25

Kalimantan Tengah

89

94

26

Nangro Aceh Darussalam

59

90

27

Sulawesi Tenggara

55

58

28

Kalimantan Selatan

104

27

29

Maluku Utara

60

17

30

Kalimantan Timur

1340

14

31

Gorontalo

17

13

32

Sulawesi Tengah

75

12

33

Sulawesi Barat

26

0

JUMLAH

76879

29879

Sumber : Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan RI

Tentang HIV dan AIDS :

Selama ini persepsi sebagian masyarakat tentang pengertian HIV dan AIDS itu adalah sama, padahal memiliki  arti yang berbeda.  HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, bila seseorang terinfeksi HIV maka disebut pengidap HIV positif artinya virus HIV sudah masuk ke aliran darah dan akan tetap berada di aliran darah seseorang.  Virus HIV ini akan merusak sistem kekebalan tubuh secara perlahan sampai bertahun-tahun.  Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah penyakit yang timbul karena tubuhnya tidak memiliki kekebalan akibat adanya virus HIV tadi.  Jadi HIV merujuk kepada virus penyebab AIDS sedangkan AIDS merujuk pada penyakit yang timbul akibat terinfeksi virus HIV.  Masa inkubasi antara masuknya HIV dengan timbulnya AIDS adalah antara 10 sampai 15 tahun tergantung dari kekebalan tubuh masing-masing penderita.

HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja dan ditularkan melalui :

  • Transfusi darah yang mengandung HIV
  • Menggunakan jarum suntik secara bergantian, tidak steril, misalnya narkoba suntik.
  • Hubungan seks bebas,  berganti pasangan tanpa menggunakan kondom
  • Dari ibu HIV positif ke bayi melalui kehamilan dan menyususi

HIV dan AIDS tidak menular dalam kondisi :

  • Gigitan nyamuk atau serangga lain
  • Bersalaman, berpelukan, maupun berciuman
  • Mandi bersama di kolam renang atau menggunakan toilet bersama
  • Berbagi makanan dan menggunakan alat makan bersama
  • Terkena batuknya atau bersinnya

Pencegahan HIV dan AIDS :

Adalah dengan memutus rantai penularannya seperti menggunakan kondom disetiap hubungan seks beresiko, hindari seks bebas, saling setia dengan pasangan,   tidak menggunakan jarum suntik secara bersam-sama atau jangan gunakan narkoba apalagi narkoba suntik atau jarum tato yang tidak steril, dan tidak memberi ASI pada bayi bila ibu positif HIV, pastikan bila transfusi darah harus bebas HIV. AIDS belum ada obatnya yang ada adalah obat untuk menekan pertumbuhan Virus yang disebut antiretroviral yang diminum sepanjang hidupnya.

Sumber Gambar : Cara Pencegahan HIV AIDS

Menghilangkan konotasi negative masyarakat terhadap penderita sehingga tidak terjadi diskriminasi terhadap pendrita AIDS dan HIV diakibatkan sebagain besar masyarakat karena ketidaktahuannya tentang penyakit tersebut, disamping juga anggapan masyarakat yang menamakan penyakit AIDS dan HIV itu adalah penyakit kutukan.  Untuk mencegah hal ini pemerintah seterusnya mengadakan sosialisasi tentang HIV dan AIDS.

Masyarakat dan keluarga khususnya tidak melakukan diskriminasi perlakuan terhadap penderita tetapi dekati, sayangi, tumbuhkan rasapercaya diri padanya, dan keluarga selalu kompak dalam mendukungnya dalam menempuh hidupnya sehingga bebannya menjadi ringan karena kehadirannya dalam keluarga tetap diharapkan.

Kepedulian pemerintah dalam upaya pencegahan  dan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden RI Nomor 75 Tahun 2006 Tentang Komisi Penanggulanag AIDS Naional yang sahsatu tugasnya mengadakan pengkoordinasian kegiatan penyuluhan, pencegahan, pemantauan, pengendalian, dan penaggulangan AIDS.

Berdasarkan paparan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr.PH pada Rapat Koordinasi Bidang Kesejahteraan Rakyat bersama Menko Kesejahteraan Rakyat, Menteri Dalam Negeri, dan Sekjen Komisi Pengendalian AIDS Indonesia, di kantor Kemenkes (2/3) Pemerintah serius menangani masalah HIV/AIDS. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya jumlah orang yang diperiksa, seiring dengan meningkatnya jumlah layanan Konseling dan Tes HIV di Indonesia. Jumlah kasus HIV positif yang ditemukan pada penduduk yang melakukan Konseling dan Tes HIV adalah 859 orang HIV positif tahun 2005, 21.591 orang tahun 2010, dan 21.031 orang tahun 2011. Selain itu angka kematian (Case Fatality Rate=CFR) AIDS menurun dari 4,5% pada tahun 2010 menjadi 2,4% pada tahun 2011.

Menkes menegaskan, pembiayaan Pengendalain HIV-AIDS melalui APBN terus meningkat dari tahun ke tahun. Demikian pula untuk pembiayaan pengadaan obat ARV. Tahun 2007 pengadaan ARV sebesar Rp. 17.9 M; Tahun 2008 sebesar Rp. 49.8 M; Tahun 2009  sebesar Rp. 43.2 M; Tahun  2010  sebesar Rp. 84.2 M, Tahun  2011  sebesar Rp. 85.9 M. Untuk Tahun 2012, semua kebutuhan obat ARV sudah dapat terpenuhi melalui anggran APBN.

“Pengendalian HIV-AIDS di Indonesia diperkuat dengan Program Aku Bangga Aku Tahu. Suatu kampanye pencegahan penyebaran HIV dan AIDS yang ditujukan kepada kaum muda usia 15-24 tahun. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV dan AIDS diantara kaum muda agar mereka dapat menjaga dirinya tidak tertular,” kata Menteri Kesehatan RI.

Sejalan dengan upaya pemerintah RI dalam pencegahan dan pengendalian HIV dan AIDS sangat tepat sekali ibarat pucuk dicinta ulam tiba yaitu merujuk berita VOA hari Minggu tanggal 18 Maret 2012 yang berjudul Pedoman Internasional Dikeluarkan untuk Bantu Pengobatan HIV.

Beberapa pedoman internasional baru telah diterbitkan untuk membantu orang yang tertular HIV mendapat pengobatan untuk seterusnya.

Perhimpunan Dokter Internasional dalam Perawatan AIDS (IAPAC) mengeluarkan pedoman untuk membantu penderita HIV mendapat pengobatan untuk seterusnya.

Ke-37 pedoman itu dibuat oleh sebuah panel pakar pada Perhimpunan Dokter Internasional dalam Perawatan AIDS (IAPAC). Salah seorang ketua IAPAC, Jean Nachega, adalah ilmuwan pada Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health dan guru besar fakultas kedokteran pada Universitas Stellenbosch di Afrika Selatan.

Ia menuturkan pedoman tersebut dirancang untuk membantu baik pasien maupun yang menyediakan perawatan. Tidak diminumnya obat anti-retroviral sesuai resep dokter bisa membuat virus HIV kambuh, bahkan semakin ganas.

“Konsekuensinya adalah virus HIV terus berkembang biak dan pengembang-biakan ini mengakibatkan virus itu kebal obat nantinya. Obat ini akhirnya tidak lagi bermanfaat. Pasien harus bergantung pada obat-obat yang bahkan lebih kompleks dan mahal, yang di beberapa negara tidak tersedia. Jadi ini akan benar-benar problematik,” tuturnya.

Beberapa obat anti-retroviral yang lebih baru telah membuat HIV/AIDS menjadi penyakit kronis di banyak negara maju. Meski demikian, Pusat Pemberantasan Penyakit Amerika (CDC) mengatakan bahkan di Amerika banyak pasien tidak mau memanfaatkan pengobatan tersebut. Menurut CDC, hanya 69 persen orang yang tertular HIV positif mulai berobat, dan hanya 59 persen berobat untuk seterusnya. Selain itu, hanya 28 persen orang Amerika yang hidup dengan HIV memperoleh pengobatan secukupnya untuk membuat virus HIV tidak terdeteksi lagi dalam darah mereka.

Berbagai rekomendasi itu termasuk berbagai program penjangkauan pasien secara intensif untuk ikut menjamin mereka yang didiagnosis mengidap HIV ikut program pengobatan. Selain itu, juga ada pemantauan penderita HIV secara sistematis untuk mengetahui apakah mereka mematuhi pengobatan mereka. Program pendidikan dan penyuluhan juga direkomendasikan agar para pasien memahami pentingnya dosis obat yang terjadwal dan rutin.

Pedoman-pedoman itu juga menyarankan penyaringan, pengelolaan, dan pengobatan depresi dan berbagai penyakit jiwa lainnya, dan juga dukungan terapi yang terfokus pada anak-anak dan dewasa.

IAPAC dan Lembaga Kesehatan Amerika mensponsori bersama semua rekomendasi tersebut.

Tentunya pelaksanaan dari maksud dikeluarkan pedoman internasional ini akan menjadi sangat berharga  dan wujud nyata kepedulian Dunia Internasional terhadap penyakit yang sangat mematikan ini.

5 Responses

  1. Pemerintah seharusnya lebih menggalakkan lagi sosialisasi bahaya HIV/AIDS. Semoga sukses ya. Oh..ya, mohon beri komentar pada tulisan berikut ini ya – Memanusiawikan Lingkungan Sungai Ciliwung dan Sekitarnya

  2. […] Bali pada tahun 1987 tetapi pada tahun 2012 ini kasus HIV dan AIDS telah merambah semua … Download Upaya Pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia | Perangkat … | […]

  3. […] sampai tahap yang menghkhawatirkan karena telah merambah semua provinsi yang ada di Indonesia. Download Upaya Pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia | Perangkat … | […]

  4. […] sampai tahap yang menghkhawatirkan karena telah merambah semua provinsi yang ada di Indonesia. Download Upaya Pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia | Perangkat … | […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s