Perlunya Penanaman Pendidikan Karakter (Budi Pekerti) Sedini Mungkin dalam Pendidikan

Oleh
Selamat Anwar Sadat
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Mataram

“Pendidikan adalah upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan jasmani anak didik.”
(Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia)
kita pasti tidak asing lagi dengan nama Ki Hajar Dewantara, beliau adalah menteri pendidikan nasional pertama dan pendiri sekolah pertama yang beliau beri nama dengan Taman Siswa. Karena jasanya itulah maka sudah sepantasnyalah bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang merdeka yang menghargai para pahlawannya merayakan hari kelahirannya yaitu pada tanggal 2 mei sebagai hari pendidikan nasional. Tentu kita tidak ingin hanya merayakan hari kelahirannya saja tetapi kita seharusnya melanjutkan cita-citanya yaitu memajukan pendidikan di Indonesia karena kemajuan dan kemunduran suatu bangsa bisa dilihat dari seberapa majunya dalam system pendidikan. Continue reading

Program Remedial, Pengayaaan, dan Akselerasi

Dalam kaitannya dengan belajar tuntas (mastery learning ) maka yang perlu diingat oleh seorang guru salah satunya adalah setiap peserta didik itu memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda dal mencapai suatu  kompetensi tertentu.  Sehingga dalam proses pembelajaran sehari-hari akan terjadi kecepatan belajar yang berbeda antara peserta didik yang pandai, peserta didik  yang biasa bahkan yang lambat atau lemah.

Dalam pembelajaran tuntas maka menekankan pada ketuntasan belajar secara individual meskipun proses pembelajaran dilakiukan secara klasikal.  Untuk mencapai pembelajaran tuntas akan mengacu kepada program perbaikan ( remedial ), pengayaan dan akselerasi. Continue reading

Kurikulum Berkarakter

Ada terdengar sayup-sayup bahwa pemerintah dalam hal ini mendikbud RI akan menciptakan sistem kurikulum nasional yang disebut kurikulum KTSP Berkarakter. Kalau ini benar maka pemegang kebijakan di dunia pendidikan di RI ini senang dan bangga membuat perubahan yaitu hanya perubahan nama dan ujung-ujungnya akan kedmbali ke sistem masa lampau. Pada 20 tahun ini sudah aringkali perubahan nama kurikulum mulai kutikulum 1974, Kurikulum 1878, Kurikulum 1984, CBSA, Kurikulum 1994, Kuriulum 2004, KBK, Kurikulum transisi 2006, dan sekarang KTSP. Lain meneteri lain orang lain kurikulum dan lain-lain.

Menurut hemat saya sebenarnya kurikulum kita di Negeri RI sudah sangat baik tinggal bagaimana manusianya terutama gurunya dilatih agar mampu memberikan hasil sesuai yang diharapkan dalam kurikulum itu sendiri sebab bagaimanapin canggih, bagusnya sistem atau kurikulum yang diterapkan tidak akan membawa hasil yang baik kalau orang yang menjadi nahkoda atau awaknya tidak mampu mengoperasikannya maka dari tu mulai aparat menteri, pejabat pendidikan di daerah terutama , paea kepala sekolah, guru harus memiliki kemampuan baik secara kompetensi maupun kemampuan profesional lainnya.

Terus terang saja banyak diantara kami para guru kurang menguasai profesi kami walaupun sudah sertifikasi, yang sertifikasi itu adalah statusnya bukan kemampuannya. Jadi pemerintah agar mengadakan pelatihan dan pengawasan ke bawah terhadap satuan pendidikan sambil mengadakan pembinaan.

Disamping itu untuk kami para pendidik dan guru yang ada dipelosok negeri ini agar diberikan fasilitas yang memadai supaya mampu bersaing seperti sekolah yang ada dikota.

Pelatihan yang kami sangat harapkan adalam peningkatan kemampuan dalam rangka penguasaan IT dan pembuatan media belajar berbasis Informasi Tekhnologi.

Kembali ke kurikulum. Kurikulum sudah dujadikan tren para menteri sehingga harus dirubah setiap 5 tahun sedangkan KTSP saja belum terlihat hasilnya. Kurikulum bnerbasis karakter ini memang sudah ada sejak CBSA dengan tiga domain atau ranah pembelaaran yaitu Cognitif, Afektif, Psycomotor, nah memalui tiga ranah inilah akan terselip karakter siswa kalau memang mau diterapkan dengan benar dan sungguh-sunguh.

Kesimpulan saya adalah bagaimanapun bagus kurikulum atau sistem pembelajaran kita tidak akan memuaskan apabila pasilitas, minat siswa, guru, dan aparat pendidik lainnya tidak memiliki kemampuan yang dimilikinya secara profesionbalisme. Jadi yang dibina dulu dengan benar dan maksimal adalah sarana dan orangnya.

Guru dan Media

Salah satu kompetensi guru adalah profesionalisme di bidangnya yantu fungsional mengajar. Kaitan mengajar vdan belajar saat ini adalah selalu berhadapan dengan Informasi tekhnologi ( IT). Seorang pendidik atau guru di zaman sekarang ini harus kreatif untuk menciptakan media belajar yang berbasis IT agar tidak ketinggalan disamping uga tetap mengembangkan media belajar tradisional sesuai dengan materi bahasan.
Dengan seorang guru mengajar menggunakan IT akan menambah wibawa guru dihadapan murid sehingga guru tidak dipandang remeh oleh siswa sebab siswa terkadang lebih dahulu mengenal IT dari pada gurunya, hal itu tentunya janganlah terjadi, apalagi sekolah tersebut berada di kota.
Sebuah kenyataan diantara kawan guru pada saat ini yaitu ada pribadi kita yang terkadang enggan bersentuhan dengan IT alias acuh tak acuh, malas belajarnya, sudah tua, dan banhyak alasan lainnya. Kalau demikian pribadi kiota sebagai guru lalu kapan akan maju gurunya apalagi muridnya tentu tak akan pernah melangkah di depan.
Membuat media belajar dengan menggunakan IT sangatlah mudah tidak sesulit yang kita bayangkan asalkan kita mau belajar. Misalnya bisa kita membuat powerpoint interaktif yaitu kita selipkan Video, gambar untuk mendukung pokok bahasan atau KD yang sedang kita bahas, tentu dengan begitu murid akan menjadi bergairah dalam menerima pelajaran. Ingat kawan ingatan manusia lebih banyak berasal dari visula atau penglihatan daripada informasi. Nah atas dasar itu media pembelajaran yang bersifat Visualisasi sangat baik dalam menumbuhkan daya ingat manusia adalam hal ini siswa kita.Move Maker sangat bagus untuk membuat media visual film, film dapat diambil dari youtube sesuai materi. Yach demikian kawan goresan hari ini.
Salam Pendidikan Indonesia

Tugas Mandiri Terstruktur dan Tidak Terstruktur

Apa itu tugas mandiri terstruktur (TMT) dan tugas mandiri tidak terstruktur (TMTT) ?  Mungkin rekan atau kita sering mendengarnya namun apa perbedaan diantara keduanya.  Kedua tugas mandiri ini, sesuai dengan namanaya mandiri berarti tugas yang diberikan atau yang harus diselesaikan seorang siswa setelah ia memperoleh atau menyelesaikan suatu kegiatan belajar dalam sebuah mata pelajaran atau bidang studi.  Apalagi dengan berlakunya KTSP di mana implementasi KTSP (kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) salah satunya sangat akrab dengan tugas mandiri ini.  Suatu tugas dikatakan mandiri terstruktur manakala tugas itu diselesaikan Continue reading