RI Kehilanhgan Seorang Lagi Pahlawan Devisa

Almarhumah Ibu Ruyati

Pada hari Sabtu tanggal 18 Juni 2011 Indonesia berduka atas dilaksanakannya hukuman pancung terhadap satu orang pahlawan devisa yaitu Ibu Ruyati asal Bekasi.  TKI yang berangkat pada tahun 2008 ini telah tiada dan telah dimakamkan di Arab Saudi.  Selama bekerja Ibu Ruyati diperlakukan tidak manusiawi dan kekerasan dari majikannya.  Menurut pernyataan temannya yang sama majikan bahwa beliau sejak bekerja tiga hari sudah mengalami kekerasan.  Saya menyatakan berduka dan belasungkawa yang sangat mendalam kepada semua keluarga beliau di Bekasi Jawa Barat, semoga arwah beliau Ibu Ruyati diterima disisi Allah SWT semua amal ibadahnya dan ditempatkan di SurgaNya dan semua keluarga yang ditinggalkan  senantiasa dalam lindunganNya dan diberi ketabahan dalam menghadapi musibah ini.

Sebenarnya beliau Ibu Ruyati telah dilarang berangkat untuk menjadi TKI oleh putra maupun putrinya karena sudah tua dan berusia 54 tahun.  Ibu menjawab larangan anaknya dengan ucapan ibu masih punya tenaga dan tidak mau membebani hidup anaknya, padahal anaknya sudah berkeluarga semua.  Yang aneh bagi kita mengapa dengan usia 54 tahun masih bisa menjadi TKI ternyata usianya dimudakan sembilan tahun sehingga beliau bisa berangkat.  Pertanyaannnya sebegitu mudahnya PT PJTKI yang menjadi sponsornya melakukan hal itu.

Darsem Menanti uluran kita

Ada 22 orang lagi TKI yang sedang menunggu hukuman pancung di Arab Saudi, termasuk TKI yang bernama Darsem, asal Subang Jawa Barat yang diponis bersalah membunuh majikannya karena majikannya tersebut mau memperkosanya.  Hukum pancung Darsem bisa diganti dengan denda 4,7 miliar, dengan tenggang waktu sampai pertengahan tahun 2011 ini.  Jika uang tebusan tidak terpenuhi maka hukuman pancung akan dilaksanakan.  Ada penggalangan dana untuk membantu memeperolaeh dana denda bagi Darsem itu yaitu BCA Cabang Pulo gadung Nomor Rekening 2755-111-111, nah yang berminat silahkan membantu lewat rekening tersebut.  Dana yang telah terkumpul baru 1 milyar.

Sebenarnya tidak berat bagi pemerintah RI untuk membayar tebusan tersebut sebab devisa negara yang disumbangkan dari TKI ke negara adalah triliunan rupiah, kalau pemerintah tidak mampu melakukan bantuan pada setiap terdakwa untuk tidak dihukum mati maka pemerintah segeralah memberi bantuan berupa pembayaran denda yang nilainya sangat kecil jiga dibandingkan dengan devisa yang dihasilkan dari keringat para TKI tersebut.

Keheranan yang luar biasa bagi saya secara pribadi adalah ketidak tahuan pemerintah RI dan kedutaan serta konsul RI di Arab Saudi terhadap pelaksanaan hukuman mati terhadap Ibu Ruyati tersebut, hal ini menandakan bahwa komunikasi pemerintah RI dengan Arab Saudi untuk perlindungan TKI sangat buruk.  Hal ini bertolak belakang dengan pidato Presiden SBY di sidang ILO bahwa perlindungan TKI sudah baik.  Menyimak pemberitaan di media masa yang menyatakan bahwa juru bicara kemenlu menyatakan jangan kaitkan pidato SBY di ILO dengan hukuman mati Ibu Ruyati, menurut saya bagaimana tidak dikaitkan, sebab terjadinya hukuman pancung itu akibat pembunuhan terhadap majikan, majikan dibunuh karena memeperlakukan TKI secara kekerasan, memperkosa, dll.  Mengapa terjadi kekerasan terhadap TKI disebabkan lemahnya sistem dan pengawasan terhadap perlindungan TKI kita.

Mungkin  bisa belajar dari mantan Presiden Gus Dur yang telah membatalkan upaya hukum pancung untuk dua orang pahlawan devisa yang telah terbukti bersalah.  Pak Gus Dur segera telpon ke Raja Fahd di Arab Saudi untuk upaya diplomasi dan ternyata halk itu dapat membatalkan hukuman pancung tersebut.  Mengapa hal ini tidak bisa dilakukan oleh pemerintah kita sekarang.  Menurut Menteri Hukum dan Ham Pak Patrialis Akbar yaitu kita tidak bisa intervensi tentang hukum Arab Saudi, menurut saya hal itu sangat betul sebab ada asas hukum internasional yang bernama asas teritorial yaitu hak Kerajaan Arab Saudi untuk menghukum siapa saja yang melakukan pelanggaran di wilayah Arab Saudi, tetapi ada yang namanya asas kebangsaan yaitu hak negara kita untuk mengadakanperlindungan terhadap bangsa indonesia yang ada di negara lain, salah satu melalui diplomasi antar negara, seperti yang dilakukan oleh mantan Presiden Gus Dur.

Sekarang ini TKI yang memanti hukuman pancung di Arab Saudi adalah 22 orang di Malaysia 70 orang dan total seluruhnya di semua negara mencapai 300 lebih TKI.  Semoga tidak terjadi lagi hukuam mati untuk TKI dan pemerintah RI supaya lebih memperhatikan dan meningkatkan perlindungan untuk pahlawan devisa ini.  Betapa mereka-mereka ini dengan niat suci untuk memngubah kesejahteraan hidupnya tetapi kesengsaraan yang ia terima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s