Hukum Mestinya Ibarat Pedang Bermata Dua

Pelaksanaan hukum menurut teorinya adalah ibarat pedang bermata dua dimana kedua matanya itu harus tajam menebas ke bawah dan tajam menebas ke atas sehingga hukum itu berwibawa ke atas untuk para pejabat dan tegas ke bawah untuk rakyat.  Kalau hukum mau tegak di negeri kita ini maka pelaksanaannya harus seperti pedang bermata dua sebagai harga mati.

Seperti yang dicontohkan Rasulullah Nabi muhammad SAW seandainya saja putrinya Siti Fatimah mencuri maka yang akan memotong tangannnya adalah Baginda Nabi sendiri seperti itulah seharusnya keadilan hukum itu tidak pandang siapapun atau tidak pandang bulu.

Kenyataannya di negeri kita Indonesia ini pelaksanaan penegakan hukum sebagai salah asatu agenda reformasi yang harus dicapai belum sepenuhnya ditegakkan dan yang lebih parah lagi penegakan hukum selalu dikaitkan dengan politik alias dipolitisir, takut sama penguasa, masih mewarisi rezim lama yaitu mikul duwur mendem jero dalam kejelekan, carmuk dan takut kehilanagn jabatan, balas jasa, asal bapak senang, dll.

Kita patut acungi jempol kepada beberapa aparat hukum yang berani seperti KPK sekarang ini supaya lebih tidak tebang pilih dalam menindak tikus-tikus pemakan uang rakyat di negeri ini, kita mengharapakn tentu juga ini harapan rakyat yang ratusan juta ini bahwa jangan takut untuk menindak para koruptor, atau politisi yang korup walaupun berasal dari partai penguasa, atau anggota DPR atau lembaga negara lainnya yang berasal dari partai penguasa, harus diperlakukan sama dengan siapapun.

Para penegak hukum agar melaksanakan Penegakan hukum dan keadilan jangan terkesan lambat dan mengulur-ulur waktu, hal itu rakyat tidak menyukainya. Aparat penegak hukum jangan latah dalam arti apapun kasusnya jangan dibekukan apabila hal itu melibatkan aparat penegak hukum itu sendiri.  Atau jangan hanya tindakan desiplin organisasi, sering terjadi setelah kasus itu mencuat di media massa baru dilimpahkan ke kepolisian yang tadinya aparat itu tidak dilaporkan padahal kasusnya kriminal. Seperti yang terjadi di Sulawesi tenggara terhadap AAL yang mencuri sandal jepit.

Dalam kasus tersebut polisi melakukan pemukulan terhadap AAL namun polisi tersebut hanya di tindak melanggar desiplin mestinya diadukan kepolisi. Kasus ini sudah satu tahun baru mencuat ke masyarakat melalui media massa, karena kasusnya menjadi ramai dimasyarakat barulah polisi yang katanya dicuri sandalnya itu atau yang memukul AAL ini diajukan ke pengadilan.  Jadi kasus ini akan dibekukan alias tidak ada pengadilan apabila tidak mencuat ke masyarakat.  Banyak kasus yang serupa yang kecil-kesil segera diajukan kepersidangan dan pelakunya masuk penjara seperti pencurian 3 biji coklat, semangka, 3 kg asam, pisang, dll  Namun kasus -kasus besar tidak terentuh dan penegak hukum di negeri ini TAKUT, sekali lagi TAKUT dan TAKUT yaitu takut hilang jabatannya, takut sama atasannya, takut sama penguasa karena terlibat kadernya dalam korupsi, yang akhirnya semua itu direkayasa dan tentunya menjadi tidak terbukti lalu terbang dan bebaaasssss.

Untuk KPK yang kepemimpinan  baru ini diharapkan berani untuk mengungkap kasus-kasus besar seperti Century, cek pelawat, kasus Nazarudin yang konon melibatkan partai tertentu ini segera di usut sehingga masyarakat semakin percaya terhadap KPK.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.