Perubahan dan Pengaruh Iklim Global Terhadap Aspek Kehidupan

Perubahan Iklim Global dan Pengaruh Terhadap Berbagai Aspek Kehidupan di NTB

Oleh : Nur Nubuwwah

Pada dasarnya bumi selalu mengalami perubahan iklim dari waktu ke waktu. Hanya saja di masa lampau perubahan tersebut berlangsung secara alami, sedangkan saat ini perubahan iklim lebih disebabkan oleh ulah manusia sehingga sifatnya lebih cepat dan drastis.

Dewasa ini perubahan iklim telah terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, khususnya NTB. Sebagian kalangan sudah mengerti tentang pemanasan global atau global warming. Pemanasan global adalah proses perubahan alam atau iklim yang tidak wajar, hal ini di tandai dengan naiknya suhu rata-rata di atmosfer, laut dan bumi.  Pemanasan global itu terjadi  salah satunya karena diakibatkan oleh efek rumah kaca.

Apa itu efek rumah kaca? Efek rumah kaca atau green house effect adalah suatu fenomena dimana gelombang pendek radiasi matahari menembus atmosfer dan berubah menjadi gelombang panjang ketika mencapai permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang tersebut dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun tidak seluruh gelombang yang dipantulkan itu dilepas­kan ke angkasa luar. Sebagian gelombang panjang dipantulkan kembali oleh lapisan gas rumah kaca di atmosfer ke permukaan bumi (fahriblog). Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan untuk menyerap radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi sehingga bumi menjadi semakin panas. Efek rumah kaca itu sendiri terjadi karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan  gas-gas lainnya seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), gas metan (CH4), dan kloroflourokarbon (CFC) di atmosfir. Kenaikan konsentrasi CO2 disebabkan oleh terjadinya berbagai jenis pembakaran di permukaan bumi seperti pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara, dan bahan-bahan organik lainnya yang melampaui kemampuan permukaan bumi untuk mengabsorpsinya. Bahan-bahan di permukaan bumi yang berperan aktif untuk mengabsorpsi hasil pembakaran tadi adalah tumbuh-tumbuhan, hutan, dan laut.

Salah satu alasan mengapa gas-gas tersebut disebut gas rumah kaca  adalah karena  mekanisme pemanasan ini sama seperti yang terjadi di rumah-rumah kaca yang digunakan untuk perkebunan di negara-negara sub tropika seperti di Eropa dan Amerika Serikat. Biasanya para petani menggunakan rumah kaca di saat musim dingin tiba. Tanaman-tanaman yang ditanam di dalam rumah kaca ini akan tetap hidup dan tidak mati karena membeku oleh pengaruh musim dingin karena kaca akan menghalangi panas matahari yang masuk dan memantulkan kembali keluar. Rumah kaca ini bisa digunakan untuk pembibitan dan berfungsi untuk menghangatkan tanaman yang berada di dalamnya. Rumah kaca ini sendiri sudah ada sejak abad ke-16 di Eropa dan biasa digunakan untuk membudidayakan mawar, lobak, sawi, brokoli, atau tanaman lainnya di musim dingin.

Sering terjadi kesalah pahaman di antara kita bahwa efek rumah kaca adalah disebabkan oleh adanya rumah-rumah kaca yang terlalu banyak di perkotaan, tapi lebih dikarenakan oleh emisi karbon yang terlalu banyak di angkasa, sehingga menyulitkan panas memantul kembali ke luar angkasa. Gas-gas seperti uap air, karbon dioksida, dan metana berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca, sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Orang yang pertama kali menyingkap fenomena efek rumah kaca ini adalah Jean-Baptise Joseph Foureurer ahli fisika dan matematika dari Perancis. Penemuan Fourier ini diteruskan oleh seorang fisikawan Swedia yang bernama Svante Arrhenius pada tahun 1896.

Efek rumah kaca ini mempunyai manfaat dan  sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup yang ada di bumi, karena jika tidak ada efek rumah kaca, bumi kita ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15°C, bumi sebenarnya telah lebih panas 33°C dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18°C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Meningkatnya gas rumah kaca tersebut dikontribusi oleh beberapa hal, pertama adalah Energi. Pemanfaatan berbagai macam bahan bakar fosil atau bahan bakar minyak memberi kontribusi besar terhadap naiknya konsentrasi gas rumah kaca, terutama CO2. Kita lihat mayoritas kendaraan bermotor masih menggunakan BBM. Coba bayangkan, dalam sehari, di NTB ini berapa puluh  ribu kendaraan yang menyumbangkan emisi karbon dan bahan beracun di atmosfir. Pengemisi terbesar adalah industri dan transportasi, Industri merusak dan mencemari lingkungan tidak hanya terjadi setelah berproduksi (beroperasi), tetapi juga dalam tahap proses pembangunannya. Pada tahap ini, kerusakan dan pencemaran lingkungan dapat terjadi pada kegiatan land clearing, mobilisasi peralatan berat, pengangkutan bahan bangunan, dan kegiatan lainnya. Dalam proses produksinya, semua industri akan menghasilkan produk sampingan yang tidak atau kurang bernilai ekonomis. Produk sampingan ini disebut sebagai limbah, yang terdiri dari limbah padat, cair, dan gas. Limbah ini akan mencemari lingkungan, perairan, tanah, dan udara, yang pada akhirnya akan mengganggu kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia. Kemudian pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan, pertumbuhan penduduk yang pesat, dan peristiwa alam. Kemudian alat transportasi yang memerlukan bahan bakar dan perbengkelan untuk perbaikan transportasi yang rusak. Dampak transportasi udara adalah bising bagi masyarakat sekitar bandar udara, terutama saat pesawat landing dan take off. Transportasi laut banyak mencemari perairan karena limbah padat dan cair biasanya dibuang ke perairan. Pencemaran udara yang di akibatkan transportasi darat, terutama adalah gas CO (karbon monoksida), Pb (plumbum, timah hitam), NOx (nitrogen oksida), SO2 (sulfur dioksida), dan bising. Selain itu, kegiatan perbengkelan yang menunjang operasional alat transportasi juga berpotensi mencemari perairan, air tanah, dan tanah, serta menimbulkan bising. Bahan pencemar bersumber dari oli bekas, bahan pelumas, minyak, dan benda benda bekas perbaikan(rongsokan). Pengendalian pencemaran perbengkelan perlu dilakukan sehingga kegiatannya tidak mencemari lingkungan.

Kedua yaitu Hutan. Salah satu fungsi hutan adalah sebagai penyerap emisi gas rumah kaca. Karena hutan dengan ribuan bahkan jutaan tumbuhan dapat mengubah CO2 menjadi O2. Dengan reaksi sebagai berikut:

6 +  6 O → C6H12O6 + 6O2

Selanjutnya gula diolah menjadi bagian bagian tumbuhan, seperti akar, batang, cabang, daun, dan buah. Tumbuhan juga melakukan pernapasan (respirasi) yang prosesnya merupakan kebalikan dari fotosintesis:

C6H12O6 + 6O2 6 +  6 O

Dengan proses fotosintesis dan respirasi di atas, secara alamiah hutan mencapai keseimbangan yang dinamis. Akan tetapi, jika hutan terbakar atau kayu digunakan sebagai bahan bakar, maka karbon yang terikat atau tersimpan dalam bahan organic (biomassa) akan masuk ke udara dalam bentuk CO2 sehingga kadarnya menjadi naik di udara. Dengan demikian, kerusakan hutan oleh pengurangan luas hutan yang tidak terkendali atau oleh kebakaran akan menyebabkan berkurangnya sumber oksigen dan terjadinya peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfir yang dapat menaikkan suhu permukaan bumi.

Sehingga perusakan  hutan  akan memberi kontribusi terhadap naiknya emisi gas rumah kaca. Seperti sistem perladangan berpindah dan perambahan hutan yang dilakukan masyarakat NTB untuk digunakan sebagai lahan usaha tani dan pemukiman juga dapat menyebabkan kerusakan hutan. Karena penduduk yang tinggal di kawasan atau di pinggir hutan membuat lahan pertanian dengan cara menebang pohon dan setelah kering di bakar. Tanah tidak di olah, tetapi langsung di tanami. Tanah ini mereka manfaatkan hanya 3-4 tahun, kemudian di tinggalkan. Selanjutnya, mereka membuka hutan baru, yang caranya sama dengan yang sebelumnya. Demikian seterusnya dan biasanya setelah 12-16 tahun (4 kali berpindah garapan), mereka kembali ke lokasi yang dibuka pertama. Sebetulnya, sistem peladangan berpindah tidak berdampak negatif terhadap lingkungan karena luas yang di buka sempit (2-3 ha) dan tanah tidak di olah secara intensif. Akan tetapi, karena penduduk bertambah terus dan teknologi sudah mulai mereka kenal, maka luas hutan yang di buka makin luas dan waktu tanah tidak di tanami juga makin singkat. Tetapi, pengusaha HPH (Hak Penguasaan Hutan) adalah merupakan penyebab kerusakan hutan terbesar. Karena mereka hanya mengejar keuntungan materi saja. Persyaratan dan ketentuan ketentuan yang mengatur pengusahaan hutan tidak mereka laksanakan sehingga kayu hutan di babat habis. Hal ini dapat terjadi, antara lain disebabkan kurangnya pengawasan, mentalitas dan integritas pengawas  yang “bobrok”, pengusaha yang kurang bertanggungjawab, dan tidak peduli lingkungan.

Ketiga yaitu Peternakan. Di sektor ini emisi gas rumah kaca dihasilkan dari pemanfaatan pupuk, pembusukan sisa-sisa pertanian dan pembusukan kotoran-kotoran ternak, dan pembakaran sabana. Gas metana juga banyak di hasilkan, karena diperoleh dari keringat dan kotoran binatang ternak, seperti sapi. Gubernur NTB juga mencanangkan program seribu sapi (BSS). yang berdampak pada peningkatan penghasilan gas metana. Di sisi lain, dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan, memenuhi kebutuhan daging nasional, memenuhi permintaan bibit sapi bagi daerah-daerah lain, dan memenuhi kebutuhan konsumsi daging dalam daerah.

Keempat yaitu Pertanian. Di sektor ini, gas metan (CH4) juga paling banyak dihasilkan. Dan juga banyak menghasilkan zat berbahaya sisa limbah pertanian, seperti insektisida. Dan penerimaan sinar ultra violet pada tanaman dapat memusnahkan hasil tanaman utama dunia. Hasil kajian menunjukkan hasil tanaman seperti ‘barli’ dan ‘oat’ menunjukkan penurunan karena penerimaan sinar radiasi yang semakin tinggi. Tanaman diperkirakan akan mengalami kelambatan pertumbuhan, bahkan akan cenderung kerdil, sehingga merusak hasil panen dan hutan-hutan yang ada. Radiasi penuh ini juga dapat mematikan anak-anak ikan, kepiting dan udang di lautan, serta mengurangi jumlah plankton yang menjadi salah satu sumber makanan kebanyakan hewan-hewan laut.

Kelima yaitu Sampah (refuse). Sampah adalah salah satu kontributor besar bagi terbentuknya gas metan (CH4), karena aktivitas manusia sehari-hari. Sampah berdasarkan zat pembentuknya, dibedakan sebagai sampah organik dan non organik. Jenis sampah juga sering dikelompokkan menjadi: limbah benda padat (waste), limbah cair atau air bekas (sewage), kotoran manusia (human waste). Secara umum, pengelompokan sampah hanya untuk benda benda padat dengan pembagian sebagai berikut: sampah yang mudah membusuk (garbage), misalnya sisa makanan, sampah yang tidak mudah membusuk (rubbish), sampah bangkai binatang (dead animal), sampah berupa abu hasil pembakaran (ashes), sampah padat hasil industry (industrial waste),  dan sampah padat yang berserakan di jalan jalan (street sweeping).

Akibat pemanasan global, cuaca dan iklim mulai tidak biasa dan tidak teratur, seperti yang pada umumnya musim penghujan berlangsung dari bulan oktober sampai maret. Sedangkan musim kemarau berlangsung pada bulan april sampai September. Tetapi sekarang, pada bulan februari dan maret yang seharusnya musim hujan, kadang mengalami kekeringan dan kemarau. Akibat cuaca yang ekstrim di NTB seperti, petani tembakau mengalami kebangkrutan akibat tembakau yang baru akan di panen mati akibat cuaca yang tidak menentu. Kemudian penanaman padi mulai tidak teratur, biasanya menanam padi dua kali setahun, masa tanam kedua terancam akan gagal panen, karena sumber air berupa mata air sudah mulai berkurang akibat pembabatan hutan dan kerusakan hutan.

Tindakan-tindakan  sederhana yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi pemanasan global, diantaranya adalah menanggulangi kerusakan hutan. Untuk menanggulangi kerusakan hutan, upaya yang dilakukan tergantung pada penyebabnya. Kerusakan yang disebabkan oleh peladang berpindah diupayakan pemulihannya dengan membina masyarakat peladang berpindah menjadi petani menetap. Kerusakan oleh perambah hutan ditanggulangi dengan transmigrasi, baik secara lokal (translok) maupun transmigrasi umum. Selanjutnya dilakukan pengawasan secara ketat dan menindak perambah menurut ketentuan yang berlaku.

Pemerintah juga sudah lama melakukan penanggulangan kerusakan hutan melalui kegiatan penghijauan dan reboisasi. Penghijauan adalah menanam tanaman terutama pohon pohonan di tanah tanah kritis milik masyarakat, sedangkan reboisasi adalah penanaman kembali kawasan hutan yang telah rusak. Di samping itu, di kawasan hutan produksi juga dikembangkan Hutan Tanaman Industri (HTI). HTI merupakan hutan tanaman yang dibangun sebagai satuan usaha komersial, yang secara ekonomis dapat mandiri untuk menghasilkan bahan baku industri perkayuan. Misi dan tujuan HTI adalah untuk meningkatkan produktivitas kawasan hutan sehingga dapat menunjang kebutuhan bahan baku industri perkayuan.

Mengurangi dan meminimalisir pemakaian Sumber Daya Alam (SDA) dan konsumsi BBM oleh masyarakat. Banyak cara menghemat BBM, beberapa diantaranya  adalah :

  1. Jangan memanaskan mesin terlalu lama. Hal ini sering terjadi ketika kita bersiap siap untuk pergi, misalnya berangkat kerja atau ke sekolah. Sambil memanaskan mobil/motor, terkadang kita juga menyempatkan diri untuk melakukan aktifitas lain. Secara tidak sadar, kita sudah memanaskan mesin cukup lama dan mengakibatkan pemborosan BBM. Memanaskan mesin mobil/motor, sebenarnya hanya membutuhkan waktu 3 menit saja.
  2. Jika ingin melajukan mobil lebih cepat, setelah  pedal gas ditekan sedikit, langsung saja pindahkan gigi ke posisi yang lebih tinggi. Jangan tunggu sampai putaran mesin naik. Dengan melakukan hal ini saja, sudah bisa menghemat konsumsi bahan bakar sebanyak 5-10%.
  3. Jika terpaksa menekan pedal gas cukup dalam, usahakan tidak lebih dari 80%. Manfaatkan gaya dorong mobil untuk melakukan percepatan saat ingin melajukan mobil lebih cepat.
  4. Gunakan gigi yang paling tinggi ketika sedang melaju cepat di jalan tol. Dengan begitu, putaran mesin pun akan tetap rendah, dan pemakaian bahan bakar pun lebih di hemat.
  5. Jika sedang melaju di jalur yang cukup lowong, misalnya di jalan tol, usahakan kecepatan mobil berada di sekitar 70 km/jam. Ini adalah kecepatan yang paling pas dan terhitung ekonomis. Jika melebihi kecepatan tersebut, putaran mesin akan meninggi, dan konsumsi bahan bakar akan semakin boros.
  6. Sebisa mungkin, lajukanlah mobil dengan kecepatan konstan. Jangan terlalu sering menekan pedal gas dan melakukan pengereman secara tiba-tiba.
  7. Saat memperlambat atau menghentikan laju kendaraan, manfaatkanlah pengurangan kecepatan dengan mesin (engine brake). Angkat pedal perlahan, dan putaran mesin pun akan ikut berkurang.

Gunakan produk yang ramah lingkungan, kurangi penggunaan/pembelian barang-barang yang terbuat dari plastik karena hampir semua sampah plastik akan menghasilkan gas yang berbahaya ketika dibakar/pembakaran tidak sempurna dan dapat mencemarkan lingkungan. Hemat dalam pemakaian air dan pemakaian energi listrik.Mengurangi penggunaan bahan-bahan yang mengandung aerosol, sebagai tambahan, Kampanye-kan program gerakan stop global warming! Biar semua orang lebih peduli dengan Bumi kita.

Jangan biarkan Bumi kita hancur oleh karena tangan kita sendiri. Karena kalau bukan kita yang melindungi dan melestarikannya, siapa lagi??

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.